Sejarah Dollar Over Hang Jadikan Pelajaran Untuk Investasi Emas

Koin Emas 1 USD

Koin Emas 1 USD, Image Credit : Wikimedia

Pada tahun 60-an, suplai dollar AS terus meningkat menyebabkan dollar terdepresiasi terhadap mata uang asing. Peningkatan suplai mata uang ini diperkirakan sebagai akibat pengeluaran pemerintah AS yang terus meningkat kususnya untuk membiayai perang Vietnam dan belanja program sosial Presiden Johnson.

Suplai dolar yang meningkat juga menaikkan tingkat inflasi AS. Harga-harga produk AS meningkat sehingga tidak bisa berkompetisi dengan produk asing. Akibatnya volume impor lebih tinggi dari ekspor. Terjadilah defisit perdagangan AS. Bagi mitra dagang AS, surplus dolar ternyata juga menimbulkan masalah. Seorang profesor ekonomi di Yale University yaitu Robert Triffin (asal Belgia) mengungkapkan hal ini dengan sebutan dollar over hang. Ini terjadi ketika nilai dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa oleh negara-negara mitra AS, telah melampaui nilai emas yang disimpan AS sebagai cadangan untuk setiap dolar yang mereka cetak pada kurs 35 dolar per ons. Dolar over hang terjadi pada tahun 1960 dan semakin memburuk pada tahun-tahun sesudahnya.

Karena melihat fakta memburuknya kondisi dolar, tantangan dan kritikan kepada AS terus disampaikan khususnya oleh negara-negara yang menggunakan reserve dolar secara dominan, seperti Prancis, Inggris dan Jerman. Charles de Gaulle, presiden Prancis kelima, secara terbuka menyerang eksistensi dolar dan mengundang negara-negara dunia lainnya untuk menciptakan sistem moneter yang kembali kepada emas. De Gaulle ternyata tidak main-main, ia mengapalkan dolar AS kembali ke Amerika dan meminta untuk diganti dengan emas. Kemudian tahun 1965 ia memerintahkan Prancis mengonversi 150 juta dolar AS ke dalam emas. Ia juga merencanakan untuk menukarkan dolar dalam jumlah yang sama setelah yang pertama sukses. Tindakan itu kemudian diikuti oleh Spanyol yang menukarkan 60 juta dolar AS ke dalam emas.

Langkah ini jelas sangat memukul Amerika Serikat. Simpanan emas mereka di Fort Knox, berkurang drastis. Presiden Johnson segera mencari cara untuk mengantisipasi gelombang penukaran dolar ke emas besar-besaran yang akan membahayakan stabilitas dolar dan ekonomi negara mereka. Kongres menyetujui proposalnya untuk mengurangi 25% emas yang dijadikan back up dolar.

Sementara dolar over hang semakin memburuh, Fed malah mencetak dolar lebih banyak untuk membiayai pengeluaran dan belanja militer. Ini mengakibatkan dolar yang disimpan sebagai cadangan devisa di luar AS meningkat drastis. Diperkirakan pada tahun 1971 nilainya 50 milliar dolar AS dengan cadangan emas AS hanya senilai 15 juta dolar AS. Inilah yang menyebabkan presiden Nixon menyerah melempar handuk. Hingga akhirnya pada Agustus 1971 dia mencabut konvertibilitas dolar, yang menandai berakhirnya sistem Bretton Woods. Artinya mulai saat itu dolar diserahkan sepenuhnya kepada pasar dan tidak lagi memiliki backup emas sama sekali. Gampangnya, pemerintah AS tidak lagi melayani pihak mana pun yang hendak menukarkan dolarnya dengan emas.

Dengan demikian lahirlah rezim keuangan dunia yang didominasi oleh dolar AS dan siapapun yang berada dibelakangnya. Dolar tidak lagi sebagai mata uang yang netral seperti sebelumnya, karena tidak lagi dicadangkan emas. Ia sudah menjadi alat yang bisa digunakan untuk eksploitasi, menjaga supremasi dan superioritas AS atas negara-negara lain. Karena hanya negara AS yang boleh mencetak dolar, sedangkan masyarakan dunia lainnya menyediakan barang dan jasa yang bisa ditukar dengan dolar.

Dengan kisah sejarah ini ambil hikmah bahwa jangan sepenuhnya mempercayai mata uang yang dikendalikan oleh kelompok tertentu, simpan kekayaan anda dalam bentuk yang sudah dipercaya menjadi standar selama ribuah tahun, simpan dalam investasi emas.

Referensi : Satanic Finance oleh Dr. Ahmad Riawan Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *